Impian dari semua orang tua adalah ingin memiliki keturunan yang senantiasa taat dan takut kepada Allah -'Azza wa Jalla-. Patuh kepada kedua orang tua, dan senantiasa menjadi Qurratul A'yun untuk kedua orang tuanya.
Dari beragam kiat yang ada, agar dapat membentuk keshalihan pada anak. Maka ada satu kiat yang SANGAT berpengaruh besar dalam pembentukan itu. Yaitu :
"MENJADI ORANG TUA YANG SHALIH TERLEBIH DAHULU"
Allah ta’ala berfirman :
ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ
“Keturunan itu sebagiannya merupakan (turunan) dari yang lain.” (Ali Imran: 34).
Allah Ta’ala juga berfirman (al-Kahfi : 82 ) :
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا
“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh”
Al-Imam Ibn Katsir –rahimahullah- berkata ketika menafsirkan ayat diatas :
فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الرَّجُلَ الصَّالِحَ يحفظ في ذريته، وتشمل بركة عِبَادَتِهِ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، بِشَفَاعَتِهِ فِيهِمْ وَرَفْعِ دَرَجَتِهِمْ إِلَى أَعْلَى دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ لِتَقَرَّ عَيْنُهُ بِهِمْ
"Dari pengertian ayat ini tersimpulkan bahwa seorang lelaki yang shalih dapat menyebabkan keturunannya terpelihara, dan berkah ibadah yang dilakukannya menaungi mereka di dunia dan akhirat. Yaitu dengan memperoleh syafaat darinya, dan derajat mereka ditinggikan ke tingkat yang tertinggi di dalam surga berkat orang tua mereka, agar orang tua mereka senang dengan kebersamaan mereka di dalam surga"
Ahmad Ibn Hafsh –rahimahullah- berkata
دَخَلْتُ عَلَى أَبِي الْحَسَنِ إِسْمَاعِيْلَ بْنَ إِبْرَاهِيْمَ عِنْدَ مَوْتِهِ فَقَالَ: لاَ أَعْلَمُ فِي جَمِيْعِ مَالِي دِرْهَماً مِنْ شُبْهَةٍ
“Aku masuk menemui Abul Hasan Isma’il Ibn Ibrahim tatkala ia hendak meninggal. Maka beliau berkata, “Aku tidak mengetahui di seluruh hartaku ada satu dirham yang aku peroleh dengan syubhat” (Taariikh al-Thabari 19/239)
Lihatlah bagaimana seorang ayah yang shalih, berusaha menjaga keluarga dan keturunannya dari hal-hal yang syubhat, karena ia tahu bahwa memakan hal yang syubhat dapat mempengaruhi keshalihan seseorang.
Sa’id Ibn Al-Musayyib -rahimahullah- pernah berkata pada anaknya :
لَأَزِيْدَنَّ فِي صَلاَتِي مِنْ أَجْلِكَ
“Wahai anakku, sungguh aku terus menambah shalatku ini karenamu (agar kamu menjadi shalih).” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467)
‘Umar Ibn ‘Abdil ‘Aziz -rahimahullah- pernah mengatakan :
مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يَمُوْتُ إِلاَّ حَفِظَهُ اللهُ فِي عَقِبِهِ وَعَقِبِ عَقِبِهِ
“Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1: 467)
Mari bersama kita membentuk keshalihan pada diri kita, agar kelak keturunan kita menjadi sosok yang kita impikan
