Rabu, 23 Agustus 2023

SAMPAI KAPAN ENGKAU AKAN LALAI?

 

Allah Ta’ala berfirman (al-Hasyr : 18 ) :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr : 18)

Abu al-Darda’ –radhiyallahu’anhu- berkata :

إِنَّ مِنْ فِقْهِ الْعَبْدِ أَنْ يَتَعَاهَدَ إِيمَانَهُ وَمَا نَقَصَ مِنْهُ، وَمِنْ فِقْهِ الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ أَمُزْدَادٌ هُوَ أَمْ مُنْتَقِصٌ

“Di antara tanda kefakihan seorang adalah ia senantiasa memperhatikan (muhasabah) imannya dan segala hal yang dapat menguranginya. Dan di antara tanda kefakihan seseorang adalah mengetahui kondisi imannya, apakah sedang bertambah atau berkurang.”

Ibnul Qayyim –rahimahullah- mengatakan,

وَتَرْكُ المُحاسَبَةِ والِاسْتِرْسالِ ، وَتَسْهيلُ الأُمورِ وَتَمْشِيتُها ، فَإِنَّ هَذَا يُؤُولُ بِهِ إِلَى الهَلاكِ ، وَهَذِهِ حَالُ أَهْلِ الغُرورِ : يُغْمِضُ عَيْنَيه عَنِ العَواقِبِ ، وَيُمَشِّى الْحَالَ ، وَيَتَّكِلُ عَلَى العَفْوِ ،

“Meninggalkan muhasabah dan enggan mengevaluasi, dan menggampangkan terhadap suatu urusan urusan, maka hal ini akan mengantarkan seseorang kepada kebinasaan. Inilah kondisi orang-orang yang terperdaya. Yang menutup mata dari berbagai akibat, larut dalam keadaan, dan dia bersandar bahwa Allah maha mengampun”

فَيُهْمِلُ مُحاسَبَةَ نَفْسِهِ والنَّظَرَ فَى العاقِبَةِ . وَإِذَا فَعَلَ ذَلِكَ سَهُلَ عَلَيْهِ مواقَعَةُ الذُّنوبِ ، وَأَنَسَ بِهَا ، وَعَسُرَ عَلَيْهَا فِطامُها

hingga akhirnya melalaikan untuk memuhasabah jiwanya dan tidak melihat kepada akibat. Bila demikian, maka mudah bagi dia untuk terjerumus dalam dosa-dosa, dan dia tentram (menyukai) akan hal itu dan sulit untuk melepaskan diri dari dosa tersebut”

Umar Ibn al-Khaththab –radhiyallahu’anhu- menasihati pegawainya dengan berkata,

أَنْ حَاسِبْ نَفْسَكَ فِي الرَّخَاءِ قَبْلَ حِسَابِ الشِّدَّةِ، وَمَنْ أَلْهَتْهُ حَيَاتُهُ وَشُغْلُهُ بِهَوَاهُ عَادَ مَرْجِعُهُ إِلَى النَّدَامَةِ وَالْحَسْرَةِ

“Hisablah dirimu dalam kondisi lapang sebelum datang hari persidangan Allah yang berat. barangsiapa kehidupannya melalaikan dia dari hisab, maka dia akan berujung pada penyesalan dan kesedihan.”

Maymun Ibn Mihran –rahimahullah- berkata,

لَا يَكُونُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يَكُونَ أَشَدَّ مُحَاسَبَةً لِنَفْسِهِ مِنَ الشَّرِيكِ لِشَرِيكِهِ

“Tidaklah seorang hamba dikatakan bertakwa, hingga dia bersikap muhasabah kepada dirinya lebih besar daripada saat dia perhitungan dengan teman dagangnya.”

Namun Maha benar Allah yang telah berfirman ( Qaf : 22 ) :

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا

“Sesungguhnya kamu lalai dari hal ini . . .”

A.    Renungan Keimanan

·         Sampai kapan iman ini akan terus berkurang. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman:

 لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ, فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ

Tiap-tiap umat memiliki ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya sedikitpun dan tidak dapat pula memajukannya. (al-A’raaf: 34)

Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda :

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَمَنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَمَنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ

“Sesungguhnya liang kubur adalah awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari (siksaan)nya maka (siksaan) selanjutnya akan lebih kejam.” (HR. Al-Tirmidzi, 2308, hasan )

‘Umar Ibn ‘Abd al-‘Aziz –rahimahullah- berkata :

مَا رَأَيُتْ يَقِينًا أَشْبَهَ بِالشَّكِّ مِنْ يَقينِ النّاسِ بِالْمَوْتِ ثُمَّ لَا يَسْتَعِدُّونَ لَهُ

 

“Aku tidak melihat sesuatu yang meyakinkan tetapi seakan diragukan oleh manusia seperti keyakinan manusia terhadap kematian karena mereka tidak mempersiapkannya.(Tafsir al-Qurthubiy 10/64)

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan (At-Tadzkirah Bi Ahwal al-Mauta Wa Umur al-Akhirah : 124) :

وَأَجْمَعَتِ الأُمَّةُ عَلَى أَنَّ المَوْتَ لَيْسَ لَهُ سِنٌّ مَعْلومٍ، وَلَا زَمَنَ مَعْلومٍ، وَلَا مَرَضٌ مَعْلُوم

“Umat seluruhnya telah sepakat bahwasanya kematian itu tidak diketahui pada usia kapan, tidak pula diketahui kapan waktunya, dan tidak pula diketahui dengan sakit apa dia akan meninggal.”

Seorang penyair berkata :

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي * إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ

Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu. Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari

وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ * وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ

Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit. Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama

فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا * وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِي

Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari. Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar

وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ * وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ

Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur. Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kubur.

Namun Maha benar Allah yang telah berfirman ( Qaf : 22 ) :

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا

“Sesungguhnya kamu lalai dari hal ini . . .”

·  Sampai kapan Iman ini akan terus berkurang? Padahal seluruh aktivitas kita, amal perbuatan kita, senantiasa dicatat oleh kedua Malaikat disisi kanan dan kiri kita. Allah Ta’ala berfirman al-Qamar 52-53:

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوْهُ فِي الزُّبُرِ. وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَكَبِيْرٍ مُسْتَطَرٌ

“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.”

Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,

وَبَعْدَ البِلَى مَنْشُوْرُوْنَ, وَيَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى رَبِّهِمْ مَحْشُوْرُوْنَ, وَلَدَى العَرْضِ عَلَيْهِ مُحَاسَبُوْنَ, بِحَضْرَةِ الموَازِيْنِ وَنَشْرِ صُحُفِ الدَّوَاوِيْنَ, وَنَسُوْهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.

“Setelah hancur, manusia dibangkitkan. Dan pada hari kiamat, manusia dikumpulkan di hadapan Rabb-Nya. Di masa penampakan amal manusia dihisab. Dengan dihadirkannya timbangan-timbangan dan ditebarkannya lembaran-lembaran (catatan amal). Allah menghitung dengan teliti, sedangkan manusia melupakannya. Hal itu terjadi pada hari yang kadarnya di dunia adalah 50 ribu tahun”

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jaatsiyaat: 28).

Allah berfirman,

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Pada hari itu mereka semuanya dibangkitkan Allah, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah : 6)

Allah Ta’ala berfirman (al-Haqqah : 19 ) :

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ

“Adapun orang-orang yang kitabnya diberikan ditangan kanannya, maka dia berkata : Ambillah, bacalah kitabku ini”

Maksudnya :

خُذُوا اقْرَؤُوا كِتَابِيَهْ؛ لِأَنَّهُ يَعْلَمُ أَنَّ الَّذِي فِيهِ خَيْرٌ وَحَسَنَاتٌ مَحْضَةٌ؛ لِأَنَّهُ مِمَّنْ بَدل اللَّهُ سَيِّئَاتِهِ حَسَنَاتٍ

“Kemarilah! Baca kitabku ini!. Ia mengatakan itu karena mengetahui bahwa apa yang ada pada kitabnya hanya kebaikan saja, dan ia termasuk orang-orang yang keburukannya Allah tutupi dengan kebaikannya”

Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu- berkata :

يُدْنِي اللَّهُ الْعَبْدَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ، فَيَقُولُ: اقْرَأْ يَا ابْنَ آدَمَ كِتَابَكَ، فَيَقْرَأُ، فَيَمُرُّ بِالْحَسَنَةِ فَيَبْيَضُّ لَهَا وَجْهُهُ، وَيُسَرُّ بِهَا قَلْبُهُ، فَيَقُولُ اللَّهُ: أَتَعْرِفُ يَا بْدِي؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: إِنِّي قَبِلْتُهَا مِنْكَ، فَيَسْجُدُ

"Allah akan mendekatkan setiap hamba di hari kiamat, dan menyodorkan kepada hamba tersebut catatan amalnya di balik sayap tersebut, dan berkata: bacalah wahai anak Adam catatanmu, kemudian dia pun membacanya, dan melintasi catatan kebaikan sehingga menjadi putih bersinar lah wajahnya karenanya, dan hatinya pun menjadi gembira karenanya, maka Allah pun berfirman: apakah Anda mengenalinya wahai hamba-Ku? Maka dia pun menjawab: benar, kemudian Alloh berfirman: sesungguhnya Aku menerimanya darimu, maka sujudlah dia”

فَيَقُولُ: ارْفَعْ رَأْسَكَ وَعُدْ فِي كِتَابِكَ، فَيَمُرُّ بِالسَّيِّئَةِ، فَيَسْوَدُّ لَهَا وَجْهُهُ، وَيَوْجَلُ لَهَا قَلْبُهُ، وَتَرْتَعِدُ مِنْهَا فَرَائِصُهُ، وَيَأْخُذُهُ مِنَ الْحَيَاءِ مِنْ رَبِّهِ مَا لَا يَعْلَمُهُ غَيْرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ يَا عَبْدِي؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: إِنِّي قَدْ غَفَرْتُهَا لَكَ، فَيَسْجُدُ

"kemudian Allah berfirman : angkatlah kepalamu dan kembalilah kepada catatan amalmu, maka dia pun membacanya hingga melewati catatan kejelekan, maka menjadi menghitamlah wajahnya karenanya, dan hatinya pun menjadi takut karenanya, dan bergetarlah seluruh tubuhnya, dan mulailah dia malu kepada Robb nya apa yang tidak diketahui oleh lainnya, kemudian Alloh berfirman: apakah Anda mengenalinya wahai hamba-Ku? Maka dia pun menjawab: benar, wahai Robb ku, dan Alloh berfirman: sungguh telah Aku ampuni dosa-dosa itu untukmu, maka dia pun bersujud”

Allah Ta’ala berfirman :

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ، فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

“Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah.” (QS. Al-Insyiqaq: 7-8)

Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ

“Sesungguhnya Allah (pada hari kiamat) akan mendekatkan orang beriman, lalu bagian sisi badannya diletakkan kemudian ditutup, kemudian Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengenal dosamu yang begini? Apakah kamu mengenal dosamu yang begini?’ Orang beriman itu berkata, ‘Ya, Tuhanku’. Hingga ketika sudah diakui dosa-dosanya dan dia melihat bahwa dirinya akan binasa, Allah berfirman kepadanya, ‘Aku telah merahasiakannya bagimu di dunia (dosa-dosamu) dan Aku mengampuninya buatmu hari ini’. Maka orang beriman itu diberikan kitab catatan kebaikannya.”

Allah Ta’ala melanjutkan ( 25-27 ) :

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ ۞ وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ ۞ يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ ۞

“Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata : Wahai alangkah baiknya kitab ini tidak diberikan kepadaku, dan aku tidak mengetahui bagaimana hisabku. Seandainya kematian itu bisa menyelesaikan segala sesuatu”

وَهَذَا إِخْبَارٌ عَنْ حَالِ الْأَشْقِيَاءِ, إِذَا أُعْطِيَ أَحَدُهُمْ كِتَابَهُ فِي العَرَصات بِشَمَالِهِ، فَحِينَئِذٍ يَنْدَمُ غَايَةَ النَّدَمِ

“Ini berita keadaan yang dialami oleh orang-orang yang celaka ketika salah seorang dari mereka menerima kitab catatan amalnya di tangan kirinya. Maka pada hari itu dia menyesali amal yang telah dilakukannya didunia dengan penyesalan yang tiada tara”

Namun Maha benar Allah yang telah berfirman ( Qaf : 22 ) :

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا

“Sesungguhnya kamu lalai dari hal ini . . .”

·         Sampai kapan Iman ini akan terus berkurang, sedangkan setiap tindak tanduk kita akan Allah minta pertanggung jawabannya.

Allah Ta’ala juga berfirman (al-Qiyamah 14-15) :

بَلِ الإنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ . وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya”

Ibn ‘Abbas –radhiyallahu’anhuma- berkata :

سمعُه وبصرُه وَيَدَاهُ وَرِجْلَاهُ وجوارحُه.

“Pendengarannya, penglihatannya, kedua tangannya, dan kedua kakinya semuanya berbicara, begitu pula anggota tubuh yang lainnya”

Abu Musa –radhiyallahu’anhu- berkata :

وَيُدْعَى الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ لِلْحِسَابِ، فَيَعْرِضُ عَلَيْهِ رَبُّهُ -عَزَّ وَجَلَّ-عَمَلَهُ، فَيَجْحَدُ وَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، وَعَزَّتِكَ لَقَدْ كَتَبَ عَلَيَّ هَذَا الْمَلَكُ مَا لَمْ أَعْمَلْ! فَيَقُولُ لَهُ الْمَلَكُ: أَمَا عَمِلْتَ كَذَا، فِي يَوْمِ كَذَا، فِي مَكَانِ كَذَا؟ فَيَقُولُ: لَا وَعِزَّتِكَ، أَيْ رَبِّ مَا عَمِلْتُهُ. فَإِذَا فَعَلَ ذَلِكَ خُتِم عَلَى فِيهِ

“bahwa orang kafir dan orang munafik dipanggil untuk menjalani hisab (perhitungan amal perbuatan), lalu Allah perlihatkan semuanya. Kemudian ia mengingkarinya seraya berkilah, 'Ya Tuhanku, demi Keagungan-Mu, sesungguhnya malaikat ini telah mencatat terhadapku hal-hal yang tidak pernah kulakukan." Malaikat pencatat amal perbuatan berkata kepadanya, 'Bukankah kamu telah melakukan anu dan anu di hari anu dan di tempat anu?' Ia menjawab, 'Tidak, demi Keagungan-Mu, ya Tuhanku, aku tidak pernah melakukannya.' Apabila si hamba itu berkata demikian, maka dikuncilah mulutnya (sehingga tidak dapat bicara, dan yang bicara adalah semua anggota tubuhnya)."

Allah Ta’ala berfirman:

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yaasiin: 65)

Allah Ta’ala berfirman (al-Jatsiyah 20-22) :

حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا, قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ, وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ, وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ.

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushilaat: 20-22)

Namun Maha benar Allah yang telah berfirman ( Qaf : 22 ) :

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا

“Sesungguhnya kamu lalai dari hal ini . . .”

·         Sampai kapan kelalaian ini akan terus mengakar? Sedangkan kita meyakini tidak ada tempat yang paling mengerikan, kecuali Neraka Allah.

Allah Ta’ala berfirman ( al-Furqan : 12 ) :

إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا

“Apabila Neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara menyalanya”

‘Ubaid Ibn ‘Umair –rahimahullah- berkata :

إِنَّ جَهَنَّمَ تَزْفَرُ زَفْرَةً، لَا يَبْقَى مَلِكٌ وَلَا نَبِيٌّ إِلَّا خَرّ تَرْعَد فَرَائِصُهُ، حَتَّى إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، لِيَجْثُو عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَيَقُولَ: رَبِّ، لَا أَسْأَلُكَ الْيَوْمَ إِلَّا نَفْسِي

“Sesungguhnya Neraka Jahanam itu menggelegar sekali gelegar, lalu tak seorang pun dari Malaikat dan Para Nabi melainkan jatuh tersungkur dengan muka di bawah (karena ketakutan), semua persendian tulangnya bergetar, sehingga Ibrahim –‘alaihis salam- sendiri terduduk di atas kedua lututnya seraya berkata, "Wahai Tuhanku, aku tidak memohon kepadamu hari ini kecuali untuk keselamatan diriku”

. Al-Imam Malik Ibn al-Harits berkata :

فَإِذَا انْتَهَى إِلَى بَعْضِ أَبْوَابِهَا قِيلَ لَهُ: مَكَانَكَ حَتَّى تُتْحَفَ.

“Dan apabila seseorang sudah sampai disalah satu pintu neraka, maka dikatakan kepadanya : “Tetaplah ditempatmu, kamu akan diberi jamuan”

فَيُسْقَى كَأْسًا مِنْ سُمِّ الْأَسَاوِدِ وَالْعَقَارِبِ. فَيُمَيَّزُ الْجِلْدُ عَلَى حِدَةٍ، وَالشِّعْرُ عَلَى حِدَةٍ، وَالْعَصَبُ عَلَى حِدَةٍ، وَالْعُرُوقُ عَلَى حِدَةٍ.

“Maka ia diberi minuman racun ular hitam dan kalajengking. ( Maka ketika mereka meminumnya ) Kulitnya hancur, rambutnya hancur, uratnya pecah, dan otot-ototnya terkoyak”

Lalu Allah Ta’ala memerintahkan (al-Haqqah 30-31) :

خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ

“Peganglah dia dan belenggulah tangannya kelehernya. Dan lemparkan ia kedalam api neraka yang menyala-nyala”

al-Minhal Ibn Amr, dia berkata :

إِذَا قَالَ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ {خُذُوهُ} ابْتَدَرَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِنَّ الْمَلَكَ مِنْهُمْ لَيَقُولُ هَكَذَا، فَيُلْقِي سَبْعِينَ أَلْفًا فِي النَّارِ

“Tatkala Allah katakan “Peganglah ia”, maka 70.000 malaikat berebut (untuk menyiksanya dan merantainya) begitu juga di dalam neraka”

Allah Ta’ala melanjutkan ( al-Haqqah : 32 ) :

ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ

“Kemudian, belitlah ia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta”

Ibn ‘Abbas –radhiyallahu’anhuma- berkata :

تَدَخُلُ فِي اسْتِهِ, ثُمَّ تَخْرُجُ مِنْ فِيهِ، ثُمَّ يُنْظَمُونَ فِيهَا كَمَا يُنَظَمُ الْجَرَادُ فِي الْعُودِ حِينَ يُشْوَى

“Rantai itu dimasukkan dari liang duburnya, kemudian dikeluarkan dari mulutnya. Kemudian mereka dipanggang (seperti sate), sebagaimana belalang ketika ditusuk dan dipanggang”

Allah Ta’ala berfirman (al-Haqqah : 36-37 ) :

وَلا طَعَامٌ إِلا مِنْ غِسْلِينٍ. لَا يَأْكُلُهُ إِلا الْخَاطِئُونَ

“Dan tiada makanan kecuali darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa”

Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda :

يُقَرَّبُ إِلَيْهِ فَيَتَكَرَّهُهُ، فَإِذَا أُدْنِيَ مِنْهُ شَوى وَجْهَهُ، وَوَقَعَتْ فَرْوَةُ رَأْسِهِ، فَإِذَا شَرِبَهُ قَطَّعَ أَمْعَاءَهُ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ دُبُرِهِ

“Disuguhkan kepadanya minuman itu, dan dipaksakan untuk meminumnya. Jika minuman itu didekatkan kepadanya, maka hanguslah wajahnya dan rontoklah rambutnya. Apabila ia meminumnya, hancurlah isi perutnya hingga keluar dari duburnya”

Makanan dan Minuman tadi bukan hanya untuk dimakan, namun juga disiramkan keatas kepalanya. Semakna dengan ayat (al-Hajj : 19-20 ):

يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ. يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ

“Disiramkan air mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan segala apa yang ada didalam perut dan kulit mereka”

Al-Imam Ibn Katsir –rahimahullah- berkata :

أَنَّ الْمَلَكَ يَضْرِبُهُ بِمِقْمَعَةٍ مِنْ حَدِيدٍ، تَفْتَحُ دِمَاغَهُ، ثُمَّ يُصَبُّ الْحَمِيمُ عَلَى رَأْسِهِ

“Sesungguhnya malaikat akan memukulinya dengan gada besi, hingga pecahlah kepalanya dan otaknya berhamburan. Lalu dituangkan diatas kepalanya air yang mendidih”

Namun yang tinggal hanya penyesalan. Allah Ta’ala berfirman (al-Mulk : 10 ) :

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Mereka berkata : Andaikata kami dahulu mau mendengarkan atau merenungi (peringatan itu), niscaya kami tidaklah termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”

Anas Ibn Malik –radhiyallahu’anhu- berkata :

يُلْقَى الْبُكَاءُ عَلَى أَهْلِ النَّارِ, فَيَبْكُونَ حَتَّى يَنْفُذَ الدُّمُوعُ، ثُمَّ يَبْكُونَ الدَّمَ،

“Tangisan menimpa para penghuni neraka, mereka menangis hingga air mata menjadi kering, lalu mereka menangis dengan air mata darah”

Namun Maha benar Allah yang telah berfirman ( Qaf : 22 ) :

لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا

“Sesungguhnya kamu lalai dari hal ini . . .”

·         Sampai kapan Iman ini akan terus turun, sedangkan kita meyakini bahwa dunia ini hina dan fana.

Allah –ta’ala- berfirman :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ, وَلَهْوٌ, وَزِينَةٌ, وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ, وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ, كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ, ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا, ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا, وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ, وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ, وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُور

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. al-Hadîd [57]: 20).

Tafsir :

ضَرَبَ تَعَالَى مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي أَنَّهَا زَهْرَةٌ فَانِيَةٌ وَنِعْمَةٌ زَائِلَةٌ.

“Allah ta’ala menggambarkan tentang perumpaan kehidupan dunia, bahwa sesungguhnya dunia itu adalah kemewahan yang fana dan nikmat yang pasti lenyap”

هَكَذَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا تَكُونُ أَوَّلًا شَابَّةً، ثُمَّ تَكْتَهِلُ، ثُمَّ تَكُونُ عَجُوزًا شَوْهَاءَ، وَالْإِنْسَانُ كَذَلِكَ فِي أَوَّلِ عُمْرِهِ, وَعُنْفُوَانِ شَبَابِهِ, غَضًّا طَرِيًّا لَيِّنَ الْأَعْطَافِ، بَهِيَّ الْمَنْظَرِ، ثُمَّ إِنَّهُ يَشْرَعُ فِي الْكُهُولَةِ, فَتَتَغَيَّرُ طِبَاعُهُ, وَيَنْفَد بَعْضُ قُوَاهُ، ثُمَّ يَكْبَرُ فَيَصِيرُ شَيْخًا كَبِيرًا، ضَعِيفَ الْقُوَى، قَلِيلَ الْحَرَكَةِ، يُعْجِزُهُ الشَّيْءُ الْيَسِيرُ

“Begitulah kehidupan dunia, pada mulanya kelihatan muda, kemudian tumbuh dewasa, kemudian menua akhirnya pikun dan renta, Demikian pula manusia pada permulaan usianya dan usia mudanya, ia segar, padat, berisi dan penampilannya hebat, kemudian secara berangsur mulai menua dan semua wataknya berubah, dan hilang sebagian kekuatannya, lalu jadilah ia manusia yang lanjut usia dan lemah kekuatannya, sedikit geraknya dan tidak mampu mengerjakan sedikitpun pekerjaan”

Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda :

مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ, فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ, وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ, وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ. وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ, جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ, وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ, وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

“Barangsiapa menjadikan dunia sebagai ambisinya, maka Allah akan menceraiberaikan urusannya, dan Allah akan menjadikannya miskin. Tidaklah ia akan mendapatkan dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa menjadikan Akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan menyelasaikan urusannya Allah jadikan hatinya selalu merasa cukup, serta ia akan diberi dunia sedangkan dunia memaksanya'."

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَخْشَى عَلَيْكُمُ الْفَقْرَ وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمُ التَّكَاثُرَ

“Yang aku khawatirkan pada kalian bukanlah kemiskinan, namun yang kukhawatirkan adalah saling berbangganya kalian (dengan harta)” (HR. Ahmad 2: 308

Dalam hadits lain Rasulullah –shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda :

مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا, هَمَّ الْمَعَادِ ,كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ, وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا, لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهِ هَلَكَ.

“Barangsiapa menjadikan segala macam keinginannya hanya satu, yaitu keinginan tempat kembali (Akhirat), (maka) Allah akan mencukupkan baginya keinginan dunianya. Dan barangsiapa yang keinginannya beraneka ragam pada urusan dunia, (maka) Allah tidak akan mempedulikan, di manapun ia binasa”

Allah –ta’ala- berfirman dalam hadits qudsi :

يَا ابْنَ آدَمَ, تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي, أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى, وَأَسُدَّ فَقْرَكَ, وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ, مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا, وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ.

'Wahai anak Adam (manusia), luangkan waktumu hanya untuk beribadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan (bathin). Akan Ku-tutupi kemiskinanmu. Dan jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan penuhi hatimu dengan kesibukan dan tidak akan Ku-tutupi kemiskinanmu'

Al-Imam al-Nawawiy –rahimahullah- berkata dalam sya’irnya :

إِنَّ لِلهِ عِبَادًا فُطَنَا *** طَلَّقُوْا الدُّنْيَا وَ خَافُوْا الْفِتَنَا

نَظَرُوْا فِيْهَا فَلَمَّا عَلِمُوْا *** أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا

جَعَلُوْهَا لُجَّةً وَ اتَّخَذُوْا *** صَالِحَ الْأَعْمَالِ فِيْهَا سُفَنَا

Sesungguhnya Allah memiliki beberapa hamba yang cerdik,

mereka menceraikan dunia karena khawatir bencana

Mereka merenungkan isi dunia, ketika mereka mengetahui bahwa dunia bukanlah tanah air orang yang hidup

Mereka pun menjadikannya laksana samudera dan menjadikan amal shalih sebagai bahteranya

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ وَ ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ, فَأَمَّا ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ, وَ هَوًى مُتَّبَعٌ, وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ. و ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ : خَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ والعلانيةِ وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا

“Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Adapun tiga perkara yang membinasakan adalah: kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan  seseorang yang membanggakan diri sendiri. Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allâh di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan ridha”